Tuesday, March 7, 2017

Perjalanan Bisnis Gaharu : Antara Mimpi dan Kenyataan


Experience is the best teacher. Ini merupakan kata yang tepat dalam saya memulai membuat postingan tentang perjalanan bisnis gaharu : antara mimpi dan kenyataan. Sebelumnya saya meminta maaf kepada rekan-rekan penggiat gaharu ataupun yang baru mengenal gaharu, mungkin dalam artikel ini saya akan mengungkapkan fakta-fakta menarik yang saya alami sendiri dalam melakoni kegiatan yang berkaitan tentang gaharu, yang mungkin sedikit mematahkan semangat rekan-rekan sekalian. Dan ini murni niat saya untuk berbagi agar dapat dijadikan pelajaran sehingga pengalaman yang tidak mengenakan tidak terjadi pada rekan-rekan yang baru mengenal gaharu. (serem ya....hi..hi..hiii).
Bisnis gaharu merupakan salah satu usaha yang sangat menggiurkan. Hal tersebut disebabkan mahalnya harga gubal gaharu di pasar Internasional yang mencapai nilai fantastis. Dan ini jua lah yang menjadi salah satu faktor saya menceburkan diri dalam usaha bisnis gaharu. (basah dong mas ade, kecebur??). Nah, pada postingan kali ini saya akan berbagi pengalaman pribadi saya memulai bisnis gaharu.

Perkenalan Dengan Gaharu
Tahun 2010 merupakan tahun awal saya mengenal gaharu. Pada tahun 2006 memang sudah ada teman yang sudah berbicara tentang gaharu, ya waktu itu tidak tahu sama sekali apa itu gaharu, pohonnya seperti apa, bibitnya beli dimana dan nilai ekonomis bagaimana. Pertengahan 2010 saya mulai mengenal gaharu berawal dari salah seorang teman yang mengajak saya bergabung di salah satu yayasan sosial yang salah satu kegiatan yayasan ini adalah tentang penghijauan pohon gaharu. Disini saya berkenalan dengan teman-teman pengusaha gaharu yaitu Bp. Joni Surya dan beberapa rekannya.
Singkat cerita pada akhir 2010, yayasan ini melakukan pelatihan gaharu nasional yang pematerinya dari Asgarin dan dari Pengharum Malaysia. Saya belajar banyak pada pelatihan tersebut dan saya tidak mengeluarkan biaya alias gratis..tis..tis karena terlibat dalam kepanitiaan. Dan momen tersebut menjadi momentum awal saya dalam memulai bisnis gaharu.
Menanam Bibit Gaharu
Selang beberapa minggu selesai dari pelatihan gaharu nasional yang saya ikuti tadi, semangat 45 mulai timbul untuk ikut serta menyumbangkan oksigen dunia, yups yaitu mulai menanam gaharu. Berbekal semangat tetapi tanpa didasari ilmu tentang cara menanam gaharu, mulai lah bibit gaharu ditanam dilahan-lahan milik sendiri. Dan alhasil dalam 6 bulan setelah tanam, bibit gaharu yang ada mulai bertumbangan alias mati, karena kurangnya ilmu tentang gaharu. Loh, kok mas ade tidak konsultasi dengan teman-teman yang ada di yayasan tadi ? Setelah pelatihan selesai, yayasan tadi mulai mengalami miss comunication diantara pengurus dan anggota sehingga lost comunication. Dan pengurus dan anggota kembali kepada habitatnya masing-masing.
Saya berpesan bagi rekan-rekan yang akan memulai menanam gaharu sebaiknya harus memahami terlebih dahulu tentang cara menanam gaharu, jangan sampai kejadian yang kami alami terulang pada rekan-rekan sekalian.

Mulai Melakukan Penyuntikan Pohon Gaharu
Setelah bibit yang ditanam banyak yang mati, sayapun berpikir bagaimana bisa menghasilkan uang dalam bisnis gaharu, ya.... menjual gubal gaharu dari hasil inokulasi sendiri. Yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah menyuntik gaharu dengan membeli obat gaharu. Hasil pemantauan pada media sosial Facebook, maka saya berkenalan dengan salah seorang yang sudah berbisnis gaharu dan sudah melakukan penyuntikan pohon gaharu ke beberapa pulau di Indonesia. Saya tidak akan menyebutkan orangnya di sini, karena akan membunuh karakter seseorang. Akhirnya setelah deal harga, saya mulai memesan inducer kepada orang tersebut sebanyak 5 liter. Harga perliternya pun cukup fantastis yaitu 2 juta/liter diluar ongkos kirim.
[caption id="attachment_204" align="alignleft" width="300"] Bukti pengiriman inducer dari penjual[/caption]
Orang tersebut mengklaim bahwa inducer yang dikirimnya kepada saya adalah produksi dari Thailand dan sudah berhasil di negeri Gajah Putih tersebut. Pada proses pengirimannya memakan waktu yang sangat lama sekali, waktu itu pengiriman selesai seluruhnya mencapai waktu 6 bulan. Harap dan cemas sudah pasti menghantui saya waktu itu, karena uang sudah saya transfer seluruhnya. Akhirnya dalam kurun waktu 6 bulan tersebut selesainya pengiriman inducer tersebut kepada saya.
Dan pertunjukan penyuntikan pohon gaharu saya mulai, dengan pohon-pohon yang saya beli kepada masyarakat dengan metode inokulasi atau penyuntikan pohon gaharu yaitu spiral dan vertikal, inducer tadi mulai saya masukkan kedalam pohon gaharu, dengan harapan bisa mendatangkan keuntungan dalam saya berbisnis gaharu.
Mulai Riset Pembuatan Inokulan
Lamanya proses pengiriman inducer yang saya beli tadi membuat semangat 45 ini terus berpikir dan mencoba berinovasi dalam melakukan riset tentang inokulan. Seperti diketahui bahwa saya tinggal di Kota Bengkulu dan ketika saya mulai mengetahui tentang pohon gaharu, ternyata di kabupaten-kabupaten yang ada di Provinsi Bengkulu sangat banyak sekali tegakan pohon gaharu yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Akhirnya dengan berbekal Tabungan yang ada dan sisa uang dapur dari istri maka saya beli tegakan pohon gaharu tersebut dengan sewa lahan selama 3 tahun. Pada waktu itu saya beli tegakan pohon gaharu sebanyak 150 pohon gaharu. (kurang lebih).
Dan inilah awal mula riset pembuatan obat gaharu mulai dari yang kimia maupun yang berbahan baku alami. Formula demi formula saya racik dan kemudian disuntikkan ke pohon gaharu, teknik demi teknik saya uji coba untuk mendapatkan hasil terbaik dan do'a saya panjatkan kepada Allah Azza wa Jalla untuk kesuksesan bisnis gaharu ini khususnya dalam inokulasi pohon gaharu.
Pengecekan dari tindak balas pohon gaharu atas inokulan (berbahan baku alami) menunjukan hasil yang menggembirakan. Di beberapa lokasi pohon gaharu yang sudah saya beli tadi (pribadi) mengindikasikan hasil yang sangat memuaskan pada pengecekan 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan pasca penyuntikan. Maka pada bulan ke 18 saya mencoba panen gaharu dan hasilnya cukup untuk menambah biaya melakukan riset lagi.
Penelitian memang sangat membutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar, dengan berbekal modal sendiri tanpa ada penopang modal akan menjadikan hasil penelitian tersebut tidak maksimal. Saya menyadari bahwa dalam riset penelitian saya tentang obat apa yang paling cocok untuk disuntikkan pada pohon gaharu masih sangat perlu dikembangkan lagi. Pada riset tersebut sudah puluhan pohon gaharu yang keropos dan bahkan ada yang mati, selain itu juga ada yang recovery lagi pohon gaharu tersebut menjadi putih seperti semula. Dan perlu digarisbawahi bahwa riset tersebut menggunakan Biaya Sendiri, mulai dari pembelian pohon gaharu, pembelian bahan obat gaharu, pembelian alat panjat dan pembayaran upah tenaga kerja.

Penjualan Inokulan
Hasil konsultasi dengan beberapa teman gaharu dan merasa bahwa inokulan gaharu hasil riset yang saya lakukan sudah menampakkan hasil dan sudah panen, maka saya memberanikan diri untuk melakukan penjualan inokulan gaharu. Pada tahun 2014 saya mengeluarkan Inokulan GH-Super yang saya jual dengan harga 200-250 ribu/liter dan inokulan stik yang saya jual 50ribu/bungkus. Bahkan saya pernah menjual inokulan GH-Super tersebut seharga 80ribu/liter atas permintaan salah seorang yang berniat untuk membantu petani di daerahnya.
Keuntungan dari penjualan inokulan GH-Super tersebut saya gunakan untuk membiayai penyuntikan-penyuntikan lainnya dengan metode dan bahan yang berbeda-beda. Bahkan ada salah seorang yang minta formula pembuatan inokulan tersebut dengan alasan bahwa dia tidak mempunyai biaya untuk membeli obat gaharu sedangkan dia seorang honorer.
Komunikasi dengan pemakai inokulan tersebut mendapatkan informasi yang baik, hasil tindak balas pohon gaharu terhadap inokulan tersebut sangat mengembirakan. Tetapi saya harus jujur, ada juga yang beberapa pulau tidak menghasilkan.
Hasil komunikasi dengan user Inokulan GH-Super di berbagai daerah membuat saya harus berpikir lagi dan saya sedikit menyimpulkan bahwa :
  1. Kontur tanah, iklim dan jenis gaharu sangat mempengaruhi hasil dalam penggunaan Inokulan GH-Super.
  2. Gaharu yang tumbuh di daerah Pesisir dengan gaharu yang tumbuh di daerah pegunungan juga mempengaruhi hasil inokulasi gaharu.
  3. Karena inokulan menggunakan bahan alami maka setiap daerah memiliki karakteristik bahan yang berbeda dan sebaiknya menggunakan bahan baku yang ada di daerah tumbuh pohon gaharu.
  4. Penguasaan carving pada petani gaharu yang belum memadai bahkan tidak mengetahui sama sekali cara membersihkan gaharu membuat gaharu yang seharusnya bernilai menjadi tidak berharga karena tidak bisa mengolahnya.
Atas dasar tersebut maka saya mulai pertengahan tahun 2015 menghentikan penjualan inokulan GH-Super tersebut demi menjaga kepercayaan dan impian para petani dan penggiat gaharu.

Pembuatan Penyulingan Minyak Gaharu
Untuk lebih memanfaatkan limbah dari pembersihan gaharu berupa abu gaharu, maka saya memberanikan diri untuk melakukan penyulingan gaharu. Berawal dari chatingan dengan pembuat alat destilasi (penyulingan) gaharu, maka saya memesan 2 unit sekaligus alat penyulingan minyak gaharu. Saya minta dengan orang tersebut untuk alat yang berbeda. Tetapi orang tersebut menjanjikan kepada saya adalah alat yang terbaik dan mudah untuk digunakan, yah waktu itu belum tahu sama sekali tentang destilasi.
Yah.... alhasil, alat penyulingan minyak gaharu yang dikirimkan hanya 1 macam untuk 2 unit destilasi yaitu hanya dengan low pressure dan penggunaan destilasi dan setting alat juga tidak efisien dan tidak praktis menurut pribadi saya. Dan saya sangat kecewa dengan hasil pengerjaan yang dikirimankan kepada saya karena di sambungan las argon tersebut setelah saya cek dengan lampu banyak sekali kebocoran dan hasil las tersebut mengindikasikan tidak profesional seperti anak STM yang baru belajar nge-las.
Sudah menjadi ketentuan Allah, saya harus menerima dengan ikhlas kekecewaan tersebut. Tetapi saya tidak berputus asa dan mencoba alat destilasi tersebut dan sudah menghasilkan minyak gaharu beberapa batch. Saat ini mesin penyulingan gaharu saya istirahatkan karena low pressure memerlukan waktu yang lama ditambah lagi masih adanya kebocoran yang susah untuk diperbaiki sehingga antara hasil minyak gaharu dengan biaya penyulingan tidak seimbang, padahal saya menggunakan bahan gaharu yang bagus untuk penyulingan tersebut. Dan saya membuat video cara memisahkan minyak gaharu dengan air karena susahnya mendapatkan informasi tentang penyulingan yang dijanjikan oleh si pembuat alat destilasi dan sampai saat ini belum juga dikirimkan kepada saya.

Melakukan Komunikasi Buyer Gaharu 
Saya sadar betul bahwa dalam melakukan bisnis gaharu maka buyer atau pembeli gaharu adalah sangat penting. Buyer gaharu yang mengerti petani dan melakukan pembayaran dengan cash sangat dinanti oleh petani. Sedikit informasi tentang bisnis gaharu bahwa buyer gaharu yang ada biasanya hanya makelar bahkan penipu. Hasil kunjungan saya ke beberapa petani gaharu dan pencari gaharu alam yang ada di provinsi Bengkulu mengindikasikan banyaknya makelar yang membawa gubal gaharu dari petani kemudian setelah beberapa bulan baru dibayar. Bahkan ada yang menghilang tidak membayar sama sekali.
Saya sudah beberapa kali kedatangan buyer gaharu baik buyer lokal maupun buyer Internasional dari negara Timur Tengah. Tentu saja saya menyiapkan gubal gaharu yang berasal dari alami dan ada juga yang hasil inokulasi. Inti dari buyer gaharu tersebut adalah bau dan warna gaharu. Gaharu yang berbau wangi ketika dibakar sudah memiliki harga sesuai dengan tingkat kepekatan bau gaharu tersebut. Untuk pembeli dari Timur tengah biasanya mereka sangat suka dengan bau gaharu walaupun warnanya masih coklat, biasanya mereka membayar cash dan menggunakan mata uang US Dollar.

Kegagalan Penjualan Gaharu
Dengan modal yang sangat sedikit dan dengan niat awal membangun pasar sendiri untuk penjualan gaharu membuat saya harus extra kerja keras dalam mempromosikan gaharu bengkulu. Saya memiliki prinsip yang saya tanamkan kepada kawan-kawan petani dan pencari gaharu bahwa penjualan dan pembelian gaharu harus cash. Agar kerugian yang menimpa petani dan pencari gaharu tidak terjadi akibat gubal gaharu yang dibawa belum dibayar.
Hal ini mengharuskan saya mengajak buyer gaharu yang khusus berbelanja gaharu untuk keliling ke setiap petani gaharu dan pencari gaharu. Jarak dan waktu tempuh ke petani dan pencari gaharu dari Utara dan Selatan Bengkulu membuat lelah buyer gaharu tetapi membuat senang penggiat gaharu, karena mereka merasa dihormati. Seperti buyer gaharu dari Timur Tengah, dengan bahasa arab dan pakaian jubah serta pembayaran dengan US Dollar, petani gembira karena belum pernah dikunjungi buyer seperti itu.
Berkeliling ke masing-masing penggiat gaharu menjadi bumerang yang menodai bisnis gaharu yang mulai saya tekuni. Pada kunjungan kesekian kalinya, pada bulan April 2015 saya dan buyer timur tengah ini harus menelan pil pahit karena dibohongi oleh petani gaharu yang menjanjikan stok gubal 200 kg dengan berbagai grade. Setelah kesana, ternyata stok tersebut hanya cuma 20-30 kg saja dengan kondisi gubal yang direndam dengan air dan masih basah. Padahal perjalanan ke sana memakan waktu 3,5 jam.
Akhirnya buyer ini marah dan saya meminta maaf karena tidak croscheck ke petani karena saya terlalu percaya betul dengan petani gaharu. Sebagai permohonan maaf dan menjaga nama baik maka saya menghibahkan gratis stok gaharu milik saya. Dan kondisi ini juga mengharuskan saya harus beristirahat dari aktifitas bisnis gaharu.

Project Inokulasi Yang Terhenti
Kondisi keuangan yang sudah menipis karena kegagalan penjualan gaharu dan tidak lagi menjual inokulan gaharu membuat saya harus berhenti melakukan project inokulasi yang merupakan riset pribadi dengan menggunakan dana sendiri. Padahal pada saat ini, untuk melakukan penyuntikan gaharu tidak harus mengeluarkan biaya yang besar dan cara panen dan carving yang tidak terlalu repot. Dengan estimasi biaya 1,5 juta perpohon (sudah termasuk beli pohon, obat dan tenaga kerja) dapat menghasilkan 3 sampai dengan 4 kali lipat. Metode ini kami diskusikan dengan teman pencari gaharu alami. Waktu itu metode ini hanya kami aplikasikan hanya beberapa pohon saja dan saat ini pohon gaharu tersebut sudah dibeli oleh buyer lampung.
Saat ini saya harus realistis dalam memandang bisnis gaharu agar bisa memahami betul antara impian dan kenyataan. Impian saya ketika bisnis gaharu ini sama dengan impian rekan-rekan sekalian yaitu agar bisa sejahtera. Tetapi inilah kenyataan yang saya hadapi dalam bisnis gaharu sekarang ini.
Artikel yang saya buat ini bukan untuk mematahkan semangat kawan-kawan dalam melakukan bisnis gaharu, tetapi ini semata-mata hanya untuk berbagi pengalaman sehingga bisa dijadikan pelajaran kedepannya.

MEMULAI SEMANGAT BARU
Apakah saya putus asa dalam melakoni bisnis gaharu ? Tentu tidak... saya yakin bahwa Allah akan membuka jalan bagi hamba-Nya yang selalu berusaha dan beribadah. Pengalaman yang telah saya alami, saya ambil pelajaran dan menentukan strategi dalam melakukan bisnis gaharu sebagai berikut :
  1. Mencari partner yang siap memiliki modal dan saling percaya dengan sistem bagi hasil dalam melakukan jual beli gaharu khususnya gubal alami karena di bengkulu dan provinsi tetangga masih banyak sekali tegakan gaharu.
  2. Memperbaiki metode penjualan dari yang sebelumnya mengajak buyer keliling ke petani gaharu menjadi hanya terpusat di satu lokasi.
  3. Menjalin komunikasi kembali ke beberapa buyer yang ada di Timur Tengah maupun buyer lainnya.
  4. Tetap melakukan inokulasi gaharu dengan metode sederhana dan biaya murah.
Saya yakin bisnis gaharu masih merupakan bisnis yang menjanjikan. Bisnis gaharu bisnis yang memiliki peluang penghasilan. Bisnis gaharu akan terus ada mengingat besarnya permintaan expor gaharu. Saat ini sudah jutaan batang bibit gaharu telah tertanam di bumi Indonesia baik secara pribadi maupun organisasi dan pemerintah. Artinya bisnis gaharu dari industri hulu sampai industri hilir akan semakin berkembang.
Tanam gaharu !!! Hijaukan Bumi.... Sejahterakan Ekonomi....
Load disqus comments

0 comments